Kamis, 24 September 2020 05:36 WIB

Opini

Jangan Lelah Mencintai Indonesia

Redaktur:

Oleh: Muhammad Izzul Mutho*

MASIH segar dalam ingatan. Kasus dugaan rasis yang meletup di Kalasan, Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Dampaknya dahsyat. Merembet ke mana-mana. Sejumlah kota ada aksi. Bahkan di beberapa titik di Papua dan Papua Barat, unjuk rasa berakhir rusuh. Sejumlah gedung dibakar. Ada juga yang dirusak. Gesekan di akar rumput, dikhawatirkan berujung pada disintegrasi.

Merebaknya isu yang semakin liar juga ditengarai makin menggurita melalui pesan berantai via layanan aplikasi dan media sosial (medsos). Kabar hoaks memang bikin miris. Ditarik lebih jauh ke belakang sedikit. Tepatnya saat proses Pemilu 2019. Masa kampanye yang panjang, kerap ditemukan narasi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Hoaks berseliweran. Sebagian masyarakat terpolarisasi. Membentuk kutub. Kalau tidak sama, dipandang lawan. Dicari kesalahan. Bahkan yang benar, bisa didengungkan salah.

Dampak hoaks yang dahsyat semakin menemukan jodoh saat disebar melalui medsos. Sekali pencet, sudah tersebar. Ke mana-mana. Cukup menggerakkan jari. Realitas medsos merupakan bagian dari fase perubahan zaman yang tak dapat terhindarkan. Bagian dari produk ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menghilangkan sekat jarak dan waktu. Dunia bak dalam lipatan. Dalam genggaman.
Arus informasi yang kian pesat, hendaknya disikapi dengan baik dan bijak. Dalam pengantar buku Total Recall, Bill Gates mengatakan, akses seketika dan mudah kepada informasi adalah salah satu janji terpenting dan paling menggairahkan dari zaman digital. Dia kali pertama berbicara soal informasi di ujung jari Anda dalam sebuah ceramah pada 1990.

Orang dapat duduk di depan komputer, laptop atau dengan menggenggam smart phone. Tinggal mengklik, muncul yang diinginkan. Sekali lagi, medsos tentunya dapat digunakan untuk hal-hal yang positif. Dan, ini banyak manfaatnya. Hanya, tidak bisa dipungkiri, medsos bisa dipakai untuk segala sesuatu yang negatif. Bicara dampak sebaran hoaks, ujaran kebencian via medsos, memang tak terbantahkan. Berapa banyak orang yang termakan berita tidak benar. Tanpa baca dulu, disebar lagi ke yang lainnya.

Sumpah serapah, cacian, hinaan, termasuk nyinyiran dengan mudahnya ditemukan di jagat maya. Medsos saat ini kerap digunakan ajang saling menyerang dan mencaci. Imam Nawawi dalam kitab Syarah al-Muhadzab menyebutkan, panggilan-panggilan kepada orang lain dengan panggilan yang buruk seperti memanggil dengan nama hewan anjing, keledai, bisa mengakibatkan pelakunya mendapatkan ta’zir atau hukuman. Ini menunjukkan, panggilan tidak baik kepada orang lain merupakan sikap yang dilarang agama. Tentunya kalau bicara Indonesia, mengacu hukum positif, hukum yang berlaku sesuai undang-undang.

Jadi teringat apa yang pernah disampaikan Paul Joseph Goebbels. Paul diangkat oleh Adolf Hitler sebagai menteri propagandanya Nazi kala itu. ’’Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya dan kebohongan yang paling besar adalah kebenaran yang diubah sedikit saja.’’ Paul disebut-sebut sebagai pelopor dan pengembang teknik propaganda modern.

Kiranya tak berlebihan, jika dulu ada pepatah, terpelesetnya mulut bisa membawa maut, saat ini bisa jadi pepatahnya, terpelesetnya jari bisa membawa mati.
Oleh karena itu, medsos hendaknya dijadikan antitesa untuk menangkal munculnya kelompok yang gampang menyatakan permusuhan dan memicu konflik, serta melakukan kekerasan terhadap sesama yang tidak sepaham dengan kelompoknya. Jika keburukan dibalas dengan keburukan, maka sampai kapan keburukan akan berhenti?

Kasus dugaan rasis di Asrama Mahasiswa Papua di Kalasan, Surabaya, bisa jadi hanya trigger (pelatuk). Semakin meletup dengan kabar hoaks yang beredar. Hanya, rentetan aksi-aksi berikutnya, yang bahkan berujung anarkis, apa ditunggangi, sudah direncanakan, atau murni mengalir sebagai bagian dari reaksi sepontan?
Yang pasti. Apapun itu, termasuk kasus-kasus lainnya, jika berdampak dan sudah mengarah pada disintegrasi bangsa, memecah belah kerukunan, kedamaian, harus disikapi secara tegas. Pemerintah dan semua kalangan, termasuk masyarakat, harus merapatkan barisan. Jangan memberi ruang mereka yang ingin memecah belah dan menginginkan kerusuhan. Juga kepada pemproduksi dan penyebar hoaks atau berita tidak benar.

Mengurai persoalan dan mencari solusi. Bahu membahu. Meredam dengan mengedepankan pikiran yang jernih. Sebagai anak bangsa, mempunyai kedudukan yang sama di negeri ini. Merawat persatuan memang tak mudah. Tapi itulah satu-satunya pilihan, jika tidak ingin pecah belah. Jika tidak menghendaki bangsa ini terkoyak. Itulah salah satu wujud konkret cinta. Jangan pernah lelah mencintai Indonesia. Selalu merajut ke-Indonesian agar tetap bersatu. Dan, menjaga keragaman serta kerukunan yang ada di tengah masyarakat agar tetap dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(*direktur kopisusu.id, praktisi media. Email: zulna2015@gmail.com, IG: izzul1806, Twitter: @MIzzulMutho1, FB: mizzulmutho.mutho)

muhammad-izhul-muthoindonesia

Baca Juga

Berita Lainnya

Hoaks, Srawung, dan Tidak Baperan

Kamis, 10 Oktober 2019

Selamat Jalan KPK

Senin, 16 September 2019

Anies, Pemimpin yang Dirindukan

Minggu, 01 September 2019