Jumat, 27 November 2020 15:13 WIB

Opini

Hoaks, Srawung, dan Tidak Baperan

Redaktur: MTO

Muhammad Izzul Mutho

Oleh: Muhammad Izzul Mutho

NUSANTARA. Di sini ada beragam suku, agama, ras, dan antargolongan. Tentunya, ini menjadi modal berharga bagi bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang besar, keanekaragaman, perbedaan, dan kemajemukan, sudah sepatutnya dijaga dan didekap agar tak bercerai.

Inilah rumah besar, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Memang, tidak sedikit badai menerpa negeri ini. Dalam rentang sejarah, sejumlah tragedi mengoyak Merah Putih. Beberapa waktu belakangan ini, hoaks, kabar bohong, semakin merajalela. Berseliweran di media sosial (medsos), grup aplikasi, dan lainnya.

Apalagi seiring dengan perkembangan teknologi. Berkembang pesatnya teknologi berpacu dengan waktu. Menghilangkan sekat jarak. Dunia dalam genggaman. Arus informasi kian mudah diakses. Ya, era digital saat ini bisa digunakan untuk hal-hal positif atau negatif. Bergantung orangnya.

Medsos merupakan bagian dari produk perkembangan teknologi tersebut. Siapa saja bisa bikin, bahkan pakai anonim sekalipun. Bisa menyampaikan sesukanya. Dapat mengunggah apa saja. Coba lihat FB. Tengoklah di IG, Twitter, YouTube, dan lainnya. Semua kepala bisa pasang status, membikin tulisan atau gambar, lalu dibagikan. Saat itu juga akan tersebar ke penjuru dunia. Bisa diakses dengan mudah.
Bayangkan jika yang disebar itu suatu kebohongan, cacian atau hinaan, dan adu domba, berapa banyak orang yang dapat melihat dan membacanya. Tak aneh, saling serang di medsos, saling klaim kebenaran, terjadi. Yang pada gilirannya, membuat resah dan pada titik nadir dapat menyebabkan jurang pemisah, disintegrasi.

Ujaran kebencian, kabar bohong, dan sejenisnya, memang bikin miris. Diakui atau tidak, masyarakat terpolarisasi. Kalau tidak sama, dipandang lawan. Dicari kesalahan. Bahkan yang benar, bisa didengungkan salah. Berapa banyak orang yang termakan berita tidak benar. Percaya saja. Tanpa konfirmasi, verifikasi atau dalam Islam, tanpa tabayun dulu.
Berita hoaks acapkali diterima sebagai kebenaran dan tanpa dikoreksi. Jika ada yang kemudian mengkoreksi maka dituduh sebagai penyebar kebohongan. Ingat apa yang disampaikan Paul Joseph Goebbels.

’’Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya dan kebohongan yang paling besar adalah kebenaran yang diubah sedikit saja.’’ Paul diangkat oleh Adolf Hitler sebagai menteri propagandanya Nazi kala itu.

Keresahan dan gesekan tak hanya di dunia maya. Di dunia nyata bisa terlihat. Masih ingat kasus dugaan rasis yang meletup di Kalasan, Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu? Dampaknya dahsyat. Merembet ke mana-mana. Disinformasi ini memakan korban jiwa maupun harta, membuat situasi tidak stabil, orang mau beraktivitas terganggu.

Hoaks bisa jadi bom waktu. Apabila dibiarkan akan meledak dan merusak apa saja. Tidak menutup kemungkinan akan mengikis bangunan bangsa dan negara. Ironisnya, penyebaran hoaks tak hanya dilakukan oleh orang awam. Tapi juga oleh orang terpelajar, terdidik, kaum intelek, dan mereka yang ”punya posisi”. Hoaks memang menggerus akal sehat. Rasanya tak berlebihan ungkapan pujangga zaman Dinasti Ababsiyah, Ibnu Muqoffa. ’’Janganlah seorang menganggap remeh mengirim berita bohong, meski sekadar guyon dan lucu-lucuan. Sebab, kebohongan itu dapat dengan cepat menenggelamkan informasi yang berisi kebenaran.’’

Yang tak kalah parah, mengutip pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Solahuddin yang menyatakan bahwa medsos berperan penting dalam penyebaran paham radikalisme. Ia menyatakan bahwa pada 2017, Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) sudah memiliki lebih dari 60 cahnnel serta 30 chat group Telegram berbahasa Indonesia. Di setiap channel tersebut ada sekitar 80 hingga 150 persen berbau kekerasan yang dikirimkan setiap harinya. Apabila dikalkulasikan dengan setiap channel tersebut, maka sebanyak ribuan konten berbau radikal dikirimkan oleh radikalis setiap harinya di medsos. Ngeri bukan?

Makanya cerdaslah mencerna informasi yang beredar. Sebelum informasi disebar, cek kebenarannya. Jika informasi tersebut salah, jangan disebar. Jika informasi itu benar dan bermanfaat bagi orang lain, silakan disebar. Medsos hendaknya dijadikan antitesa untuk menangkal hoaks dan munculnya kelompok yang gampang menyatakan permusuhan dan memicu konflik, serta melakukan kekerasan terhadap sesama yang tidak sepaham dengan kelompoknya.

Nadirsyah Hosen, dosen Monash University, yang akrab di sapa Gus Nadir, mengatakan, banyak konten yang ada di medsos saat ini harus dilawan. Harus mempunyai counter narasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan sanad keilmuannya jelas.

Medsos adalah sarana komunikasi dan informasi, sehingga alangkah eloknya, jika dijadikan media silaturahmi dan hal-hal yang baik. Banyak hal positif yang bisa dimanfaatkan dari medsos. Di antara yang bisa dilakukan adalah tidak menjadi orang yang memproduksi dan membuat informasi hoaks.

Selain itu, tidak juga menjadi distributor dari informasi hoaks, tidak ikut menyebarluaskan berita bohong. Sebab, dampak dari kebohongan mengerikan. Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin berpesan, pada hakikatnya kebohongan tidak diperbolehkan bukan karena kebohongan itu sendiri.

Akan tetapi, kebohongan dilarang dalam agama karena kebohongan menimbulkan dampak negatif. Bahkan Imam Al Mawardi dalam kitab Adabun Dunya Waddin, mengatakan, kebohongan adalah sumber dari segala kejahatan dan kejelekan, karena dampak buruk dan keji yang ditimbulkannya.

Sedih memang mengguritanya kabar hoaks. Jati diri bangsa seakan tercerabut dari akarnya. Nilai-nilai luhur yang tertanam dan diajarkan oleh nenek moyang, terancam terabaikan. Padahal, di Bumi Pertiwi ini banyak kearifan lokal yang bisa ditemukan. Nilai-nilai luhur menyemai kebersamaan dan kerukunan telah ditanamkan sejak dulu. Bangsa Indonesia lahir sebagai bangsa yang beradab dan tidak mudah ’’baperan’’.

Dalam kearifan lokal suku Tolaki di Sulawesi Tenggara, misalnya ada kohanau (malu) dan merou (budaya sopan). Di Jawa, sangat familier dengan narasi tata krama, srawung, dan guyub. Tata krama, adat sopan santun ini sangat penting dalam kehidupan sosial.

Bagaimana cara berhubungan antarsesama, antara anak dan orang tua serta sebaliknya atau antara mereka yang usia muda dan tua serta sebaliknya. Tidak mentang-mentang tua, lalu merendahkan yang muda. Begitu pula yang muda, tidak sok dengan yang tua. Dengan sopan santun, ujaran kebencian, nyinyiran, hinaan, cacian, hoaks, dan sejenisnya dapat diredam. Muara dari tata krama ini, saling menghargai akan bersemai.

Demikian pula dengan srawung, silaturahmi, membaur, bersosial. Tidak ada sekat, atau elitis. Dengan membaur dan membumi, bisa saling kenal. Tidak tertutup dan mengisolasi diri hidup bermasyarakat. Jika ada persoalan diselesaikan dengan bermusyawarah. Juga guyub, rukun dalam kebersamaan. Narasi mangan ra mangan sing penting ngumpul, dapat dipahami bahwa kebersamaan sangat penting dalam hidup bermasyarakat. Kebersamaan itu pula merupakan semangat gotong royong. Berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah.

Menjaga tata krama dan merawat sesrawungan serta guyub, adalah hal yang penting. Perlu dilestarikan di tengah maraknya masifnya hoaks dan ujaran kebencian, termasuk di dunia maya. Kearifan lokal semacam tersebut, dapat digadang-gadang mengatasi kesalahpahaman, kebencian, termasuk hoaks. Jadi, kearifan lokal hendaknya tidak dipandang sebelah mata.

Dengan merawat kearifan lokal dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan, dapat dijadikan senjata melawan ujaran kebencian, hinaan, maupun kabar bohong, hoaks. Baik memproduksi, distributor, maupun menyebarkannya. Jangan ada ruang untuk hoaks yang dapat merenggut keberagaman Indonesia.

Oleh karena itu, jadikanlah medsos untuk hal-hal positif. Persatuan dan kesatuan adalah harga mahal. Jangan sampai robek, lapuk. Jangan sampai pudar, terkoyak, tergerus, apalagi luluh lantak. Terkait ini, rasanya tak perlu berbusa-busa menyusun konsep yang melangit tanpa tindakan konkret yang membumi. Dapat diawali dengan hal-hal kecil yang barangkali mudah. Kita mulai dari diri kita sendiri masing-masing. Ibdak binafsik. (penulis adalah direktur kopisusu.id)

muhammad-izzul-mutho

Baca Juga

Berita Lainnya

Selamat Jalan KPK

Senin, 16 September 2019

Jangan Lelah Mencintai Indonesia

Jumat, 13 September 2019

Anies, Pemimpin yang Dirindukan

Minggu, 01 September 2019